Saturday, June 03, 2006

Universitas Riset International

Ma’had Al-Zaytun yang telah mengorbit dalam jagat raya pendidikan tingkat sekolah menengah sejak 1999, tahun ini, tepatnya Agustus 2005, segera memulakan pendidikan tinggi dengan nama Universitas Al-Zaytun (UAZ). Pengoperasian UAZ ini merupakan pewujudan sistem pendidikan satu pipa (one pipe education system), yang sejak awal dicanangkan Syaykh Ma’had Al-Zaytun Dr Abdussalam Panji Gumilang.

Jaminan mutu adalah alasan utama penerapan system pendidikan satu pipa Al-Zaytun. Sekali bergerak mendidik, kata Syaykh Ma’had Al-Zaytun, harus berkualitas dan berkelas dunia. “Al-Zaytun, jangan berbuat yang tidak bermutu. Untuk apa kita mendidik, bila hasilnya akan sia-sia,” seruan yang sering ditekankan Syaykh Ma’had Al-Zaytun kepada segenap eksponen dan guru Al-Zaytun.

Al-Zaytun yang lahir dari sebuah gagasan dan konsep brilian telah memunculkan sebuah paradigma baru pendidikan di negeri ini. Tidak sekadar mengubah kesan kumuh lembaga pendidikan pesantren menjadi modern, dan mengubah penampilan dari pakai sarung menjadi berpakaian lengkap dengan jas dan dasi, tetapi juga mengubah paradigma dan wawasan menjadi berskala global. Al-Zaytun adalah lembaga pendidikan Indonesia yang disetting dengan jaminan mutu berskala global.Guna lebih menjamin kualitas itu, maka one pipe education system dijadikan madzhab pendidikan Al-Zaytun. Dengan sistem tersebut, santri berpeluang menempuh pembelajaran di MAZ, selama 20 tahun secara berkelanjutan. Mulai sekolah dasar, pada umur enam tahun hingga mencapai gelar doktor (S3) pada usia 25 tahun.

Diharapkan, pada usia sedini mungkin (25 tahun), para alumni Al-Zaytun telah dapat mengabdikan dirinya pada bangsa dan negaranya, dalam kapasitasnya sebagai doktor. Tidak heran bila orang yang telah menyaksikan dan mendalami secara seksama sistem pendidikan yang dianut Al-Zaytun, merasa berkeyakinan bahwa Al-Zaytun akan melahirkan putera-puteri bangsa yang akan mempercepat kemajuan bangsa ini sehingga mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di tataran kehidupan antar bangsa.

Persiapan Menuju Universitas

Pada akhir Mei 2005, MAZ meluluskan lebih dari 1.200 pelajar tingkat menengah atas. Sebagai konsekuensi menganut pendidikan bersistem satu pipa, MAZ harus menyiapkan terwujudnya universitas, yang dapat menampung mereka dan siapa pun (dari luar pelajar MAZ) yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di MAZ.Untuk itu, berbagai persiapan, dilakukan dengan seksama. Gedung perkuliahan berlantai 7, ditambah 1 basemen, dengan luas lantai 24 ribu m2 pun telah disiapkan, bernama Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H Muhammad Soeharto. Ruangan-ruangan dalam gedung tersebut, telah didesain sesuai dengan hajat universitas. Terdapat 40 ruang kuliah, dengan luas masing-masing, 96 m2; 20 ruang kuliah berbentuk segi enam, masing-masing seluas 120 m2; delapan ruang kuliah berbentuk tribune, seluas masing-masing 144 m2; 40 laboratorium dengan luas masing-masing 96 m2; 88 ruang rektorat dan dekanat dengan total luas 1353 m2; dua ruang pertemuan, masing-masing seluas 480 m2; 1 auditorium seluas 1.008 m2 dan ruang pendukung lainnya.

Pada tahap pertama, UAZ menyelenggarakan pendidikan dengan enam fakultas, yaitu: Fakultas Pertanian Terpadu, Fakultas Teknik Terpadu, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknologi Informasi (Information Technology), Fakultas Bahasa Terpadu dan Fakultas Pendidikan.

Kemudian setelah berjalan dua hingga tiga semester, akan ditambah dengan fakultas-fakultas lainnya, baik eksakta maupun sosial, seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan lain-lain. ► (Sumber Ensiklopedi TI)

6 Comments:

Anonymous Anonymous said...

segenap pengurus UAZ Indonesia mesti berbenah agar mahasiswa kembali percaya akan almamaternya, kerjasama antar universitas juga perlu diadakan, pengurus rektorat harus mengevaluasi kinerjanya dan harus berani menyampaikan kebenaran, ajarkan mahasiswa untuk jujur dan konskuen terhadap pernyataan, ajarkan mahasiswa untuk mengikuti prosedural resmi mengenai suatu program termasuk pemberitahuan yang resmi dan bukan melalui sms. Bapak dan Ibu pengurus rektorat UAZ Indonesia yang saya hormati, kami mendukung langkah berani anda, agar mahasiswa UAZ Indonesia tidak menjadi bahan uji coba terhadap kebijakan pemerintah Republik Indonesia

5:50 PM  
Anonymous Anonymous said...

yg dijelasin semuanya kok tentang gedung tho mas...yg tentang fasilitas pendidikan mana? misalnya, berapa banyak koleksi jurnal luar negeri yg dimiliki, berapa byk akses jurnal yg dimiliki, brp byk dosen yg bergelar doktor dari dalam/luar negeri, berapa byk profesornya, laboratorium apa saja dan alat2 apa saja yg ada di laboratorium itu. kalo cuma mengandalkan gedung aja, semua bisa. bikin gedung mah, gampang...kesiapan adopsi teknologi dan pengetahuan itu yg susah... please deh...kalo mau bohongin orang byk mbok ya yg sedikit cerdas gitu deh...

9:16 AM  
Anonymous Anonymous said...

kalo emang serius beneran, coba deh...tampilkan nama2 dosennya, gelarnya apa saja dan dari alumni mana saja mereka itu...pasti kalian kehilangan muka...karena yg pasti tidak ada sama atau sedikit sekali diantara kalian yg berpendidikan tinggi...gimana mau bikin universitas kalo tidak berpendidikan tinggi...

9:19 AM  
Blogger Aset said...

This comment has been removed by the author.

8:41 AM  
Blogger Agus Widuri said...

MARI BERLOMBA DG PENUH KEBAIKAN MIMPI ADA SUNGUH BAGUS SAYANG BANYAK KEBOHONGAN N PROPAGANDA AJA

KESOMBONGAN PENGHANCUR DIRIMU SENDIRI

10:07 PM  
Anonymous Ahmed said...

Ini benar mantan guru besar Al Zaytun?
http://www.youtube.com/watch?v=z7oH5JFhfR8

12:43 PM  

Post a Comment

<< Home